JAM WAKTU

Senin, 09 Mei 2011

MENGENAL ALLAH SWT ( BAHASAN AQIDAH )


oleh Yusuf Mansur Network pada 09 Mei 2011 jam 20:41
Banyak orang mengaku mengenal Allåh, tapi mereka tidak cinta kepada Allåh. Buktinya, mereka banyak melanggar perintah dan larangan Allåh. Sebabnya, ternyata mereka tidak mengenal Allåh dengan sebenarnya.

Sekilas, membahas persoalan bagaimana mengenal Allåh bukan sesuatu yang asing. Bahkan mungkin ada yang mengatakan untuk apa hal yang demikian itu dibahas? Bukankah kita semua telah mengetahui dan mengenal pencipta kita? Bukankah kita telah mengakui itu semua?

Kalau mengenal Allåh sebatas di masjid, di majelis dzikir, atau di majelis ilmu atau mengenal-Nya ketika tersandung batu, ketika mendengar kematian, atau ketika mendapatkan musibah dan mendapatkan kesenangan, barangkali akan terlontar pertanyaan demikian.

Yang dimaksud dalam pembahasan ini yaitu mengenal Allåh yang akan membuahkan rasa takut kepada-Nya, tawakal, berharap, menggantungkan diri, dan ketundukan hanya kepada-Nya, sehingga kita bisa mewujudkan segala bentuk ketaatan dan menjauhi segala apa yang dilarang oleh-Nya. Yang akan menenteramkan hati ketika orang-orang mengalami gundah-gulana dalam hidup, mendapatkan rasa aman ketika orang-orang dirundung rasa takut dan akan berani menghadapi segala macam problema hidup.

Faktanya, berapa banyak yang mengaku mengenal Allåh tetapi mereka selalu bermaksiat kepada-Nya siang dan malam?! Lalu apa manfaat kita mengenal Allåh kalau keadaannya demikian? Dan apa artinya kita mengenal Allåh sementara kita melanggar perintah dan larangan-Nya

Mengenal Rububiyah Allåh

Rububiyah Allåh adalah mengesakan Allåh dalam tiga perkara yaitu penciptaan-Nya, kekuasaan-Nya, dan pengaturan-Nya. (Lihat Syarah Aqidah Al Wasithiyyah Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin hal 14)

Maknanya, menyakini bahwa Allåh adalah Dzat yang menciptakan, menghidupkan, mematikan, memberi rizki, mendatangkan segala mamfaat dan menolak segala mudharat. Dzat yang mengawasi, mengatur, penguasa, pemilik hukum dan selainnya dari segala sesuatu yang menunjukkan kekuasaan tunggal bagi Allåh.

Dari sini, seorang mukmin harus meyakini bahwa tidak ada seorangpun yang menandingi Allåh dalam hal ini. Allåh mengatakan: “’Katakanlah!’ Dialah Allåh yang Maha Esa. Allåh adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya sgala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan. Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan-Nya.” (QS. Al Ikhlash: 1-4)

Maka ketika seseorang meyakini bahwa selain Allåh ada yang memiliki kemampuan untuk melakukan seperti di atas, berarti orang tersebut telah mendzalimi dirinya, karena telah menyekutukan-Nya dengan selain-Nya (yang menyebabkan dirinya binasa, dosanya tidak terampunkan (jika ia mati dalam keadaan tidak bertaubat), dan ia berada kekal didalam neraka, selama-lamanya, wal iyya ‘udzubillah)

Dalam masalah rububiyah Allåh sebagian orang kafir jahiliyah tidak mengingkarinya sedikitpun dan mereka meyakini bahwa yang mampu melakukan demikian hanyalah Allåh semata. Mereka tidak menyakini bahwa apa yang selama ini mereka sembah dan agungkan mampu melakukan hal yang demikian itu.

Lalu apa tujuan mereka menyembah Tuhan yang banyak itu? Apakah mereka tidak mengetahui jikalau ‘tuhan-tuhan’ mereka itu tidak bisa berbuat apa-apa? Dan apa yang mereka inginkan dari sesembahan itu?

Pertama, Allåh telah menceritakan di dalam Al Qur’an bahwa mereka memiliki dua tujuan. Pertama, mendekatkan diri mereka kepada Allåh dengan sedekat-dekatnya sebagaimana firman Allåh, yang artinya:

“Dan orang-orang yang menjadikan selain Allåh sebagai penolong (mereka mengatakan): ‘Kami tidak menyembah mereka melainkan agar mereka mendekatkan kami di sisi Allåh dengan sedekat-dekatnya’.” (Az Zumar: 3 )

Kedua, agar mereka (sesembahan yang disembah musyrikin tersebut) memberikan syafa’at (pembelaan ) di sisi Allåh.

Allåh berfirman, yang artinya:
“Dan mereka menyembah selain Allåh dari apa-apa yang tidak bisa memberikan mudharat dan manfaat bagi mereka dan mereka berkata: ‘Mereka (sesembahan itu) adalah yang memberi syafa’at kami di sisi Allåh’.” (QS. Yunus: 18, Lihat kitab Kasyfusy Syubuhat karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab)

Keyakinan sebagian orang kafir terhadap tauhid rububiyah Allåh telah dijelaskan Allåh dalam beberapa firman-Nya, yang artinya:
“Kalau kamu bertanya kepada mereka siapakah yang menciptakan mereka? Mereka akan menjawab Allåh.” (QS. Az Zukhruf: 87)



“Dan kalau kamu bertanya kepada mereka siapakah yang menciptakan langit dan bumi dan yang menundukkan matahari dan bulan? Mereka akan mengatakan Allåh.” (QS. Al Ankabut: 61)

“Dan kalau kamu bertanya kepada mereka siapakah yang menurunkan air dari langit lalu menghidupkan bumi setelah matinya? Mereka akan menjawab Allåh.” (QS. Al Ankabut: 63)

Demikianlah Allåh menjelaskan tentang keyakinan mereka terhadap tauhid Rububiyah Allåh. Keyakinan mereka yang demikian itu tidak menyebabkan mereka masuk ke dalam Islam dan menyebabkan halalnya darah dan harta mereka sehingga Råsulullåh mengumumkan peperangan melawan mereka.

Makanya, jika kita melihat kenyataan yang terjadi di tengah-tengah kaum muslimin, kita sadari betapa besar kerusakan akidah yang melanda saudara-saudara kita. Banyak yang masih menyakini bahwa selain Allåh, ada yang mampu menolak mudharat dan mendatangkan mamfa’at, meluluskan dalam ujian, memberikan keberhasilan dalam usaha, dan menyembuhkan penyakit. Sehingga, mereka harus berbondong-bondong meminta-minta di kuburan orang-orang shalih, atau kuburan para wali, atau di tempat-tempat keramat.

Mereka harus pula mendatangi para dukun, tukang ramal, dan tukang tenung atau dengan istilah sekarang paranormal. Semua perbuatan dan keyakinan ini, merupakan keyakinan yang rusak dan bentuk kesyirikan kepada Allåh.

Ringkasnya, tidak ada yang bisa memberi rizki, menyembuhkan segala macam penyakit, menolak segala macam marabahaya, memberikan segala macam manfaat, membahagiakan, menyengsarakan, menjadikan seseorang miskin dan kaya, yang menghidupkan, yang mematikan, yang meluluskan seseorang dari segala macam ujian, yang menaikkan dan menurunkan pangkat dan jabatan seseorang, kecuali Allåh. Semuanya ini menuntut kita agar hanya meminta kepada Allåh semata dan tidak kepada selain-Nya.

Mengenal Uluhiyah Allåh

Uluhiyah Allåh adalah mengesakan segala bentuk peribadatan bagi Allåh, seperti berdo’a, meminta, tawakal, takut, berharap, menyembelih, bernadzar, cinta, dan selainnya dari jenis-jenis ibadah yang telah diajarkan Allåh dan Råsulullåh ShallAllåhu ‘Alaihi Wasallam.

Memperuntukkan satu jenis ibadah kepada selain Allåh termasuk perbuatan dzalim yang besar di sisi-Nya yang sering diistilahkan dengan syirik kepada Allåh.

Allåh berfirman di dalam Al Qur’an, yang artinya:
“Hanya kepada-Mu ya Allåh kami menyembah dan hanya kepada-Mu ya Allåh kami meminta.” (QS. Al Fatihah: 5)

Råsulullåh Shallallåhu ‘Alaihi Wasallam telah membimbing Ibnu Abbas radhiAllåhu ‘anhu dengan sabda beliau, yang artinya: “Dan apabila kamu minta maka mintalah kepada Allåh dan apabila kamu minta tolong maka minta tolonglah kepada Allåh.” (HR. Tirmidzi)

Allåh berfirman, yang artinya:
“Dan sembahlah Allåh dan jangan kalian menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun” (QS. An Nisa: 36)

Allåh berfirman, yang artinya:
“Hai sekalian manusia sembahlah Råbb kalian yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian, agar kalian menjadi orang-orang yang bertaqwa.” (QS. Al Baqarah: 21)

Dengan ayat-ayat dan hadits di atas, Allåh dan Rasul-Nya telah jelas mengingatkan tentang tidak bolehnya seseorang untuk memberikan peribadatan sedikitpun kepada selain Allåh karena semuanya itu hanyalah milik Allåh semata.

Råsulullåh Shallallåhu ‘Alaihi Wasallam bersabda, yang artinya:
“Allåh berfirman kepada ahli neraka yang paling ringan adzabnya, (yang artinya) ‘Kalau seandainya kamu memiliki dunia dan apa yang ada di dalamnya dan sepertinya lagi, apakah kamu akan menebus dirimu? Dia menjawab ‘ya’. Allåh berfirman (yang artinya): ‘Sungguh Aku telah menginginkan darimu lebih rendah dari ini dan ketika kamu berada di tulang rusuknya Adam tetapi kamu enggan kecuali terus menyekutukan-Ku.” ( HR. Muslim dari Anas bin Malik RadhiAllåhu ‘Anhu )

Råsulullåh Shallallåhu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Allåh berfirman dalam hadits qudsi (yang artinya): “Aku tidak butuh kepada sekutu-sekutu, maka barang siapa yang melakukan satu amalan dan dia menyekutukan Aku dengan selain-Ku maka Aku akan membiarkannya dan sekutunya.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah RadhiAllåhu ‘Anhu )

Contoh konkrit penyimpangan uluhiyah Allåh di antaranya ketika seseorang mengalami musibah di mana ia berharap bisa terlepas dari musibah tersebut. Lalu orang tersebut datang ke makam seorang wali, atau kepada seorang dukun, atau ke tempat keramat atau ke tempat lainnya. Ia meminta di tempat itu agar penghuni tempat tersebut atau sang dukun, bisa melepaskannya dari musibah yang menimpanya. Ia begitu berharap dan takut jika tidak terpenuhi keinginannya. Ia pun mempersembahkan sesembelihan bahkan bernadzar, berjanji akan beri’tikaf di tempat tersebut jika terlepas dari musibah seperti keluar dari lilitan hutang.

Ibnul Qoyyim mengatakan: “Kesyirikan adalah penghancur tauhid rububiyah dan pelecehan terhadap tauhid uluhiyyah, dan berburuk sangka terhadap Allåh.”

Ketika Nabi shollallahu ’alaih wa sallam dan para sahabat  berda’wah di Mekkah sebelum hijrah ke Madinah, mereka memfokuskan da’wah Islam kepada urusan membangun fondasi kokoh berupa aqidah yang bersumber dari kalimat La ilaha ill-Allah.

Mereka tidak bergesar dari tema fundamental ini karena mereka menyadari bahwa untuk mengubah masyarakat jahiliyyah  tidak mungkin dilakukan kecuali dengan membongkar dari fondasinya yang mendasari seluruh kehidupannya kepada jalan mana yang ia tempuh, dalam semua lini kehidupan.  Sehingga percuma saja dilakukan upaya perbaikan bila dilakukan dengan semangat dan metode tambal-sulam. Diperlukan suatu langkah perombakan mendasar sebelum dilakukan upaya perbaikan pada dimensi kehidupan yang luas.

Oleh karena itu Nabi shollallahu ’alaih wa sallam dengan tekun dan sabar menyerukan da’wah yang menitikberatkan pada pelurusan kepercayaan, ideologi dan konsepsi. Sebagaimana para Nabi dan Rasul lainnya beliau menyerukan pesan universal dan abadi yaitu:

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu". (QS An-Nahl ayat 36)

Tidak ada seorang Nabi maupun Rasul kecuali mengajak umatnya masing-masing untuk memerdekakan diri dari penghambaan manusia kepada sesama manusia (yaitu Thaghut) untuk hanya menghambakan diri kepada Allah semata. Sembahlah Allah semata dan jauhilah Thaghut...!

Dan sepanjang sejarah bilamana wujud suatu masyarakat jahiliyyah niscaya suburlah kehadiran aneka thaghut di dalam masyarakat tersebut. Sebaliknya bilamana berdiri suatu masyarakat berlandaskan kepercayaan, jalan hidup dan konsepsi aqidah Tauhid La ilaha ill-Allah, maka bersihlah masyarakat itu dari eksistensi thaghut. Seluruh masyarakat menyembah dan mengesakan  Allah secara komprehensif, baik dalam aspek ibadah dan kehidupan lainnya. Berjalanlah masyarakat tersebut sarat dengan perlombaan dalam kebaikan menjunjung tinggi nilai-nilai dan hukum Rabbani. Tidak ada yang dipatuhi dan diberikan loyalitas pada prioritas pertama dan utama selain Allah Subhaanahu wa Ta’aala.

عَنْ خَبَّابِ بْنِ الْأَرَتِّ قَالَ شَكَوْنَا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ مُتَوَسِّدٌ بُرْدَةً لَهُ فِي ظِلِّ الْكَعْبَةِ قُلْنَا لَهُ أَلَا تَسْتَنْصِرُ لَنَا أَلَا تَدْعُو اللَّهَ لَنَا قَالَ كَانَ الرَّجُلُ فِيمَنْ قَبْلَكُمْ يُحْفَرُ لَهُ فِي الْأَرْضِ فَيُجْعَلُ فِيهِ فَيُجَاءُ بِالْمِنْشَارِ فَيُوضَعُ عَلَى رَأْسِهِ فَيُشَقُّ بِاثْنَتَيْنِ وَمَا يَصُدُّهُ ذَلِكَ عَنْ دِينِهِ وَيُمْشَطُ بِأَمْشَاطِ الْحَدِيدِ مَا دُونَ لَحْمِهِ مِنْ عَظْمٍ أَوْ عَصَبٍ وَمَا يَصُدُّهُ ذَلِكَ عَنْ دِينِهِ وَاللَّهِ لَيُتِمَّنَّ هَذَا الْأَمْرَ حَتَّى يَسِيرَ الرَّاكِبُ مِنْ صَنْعَاءَ إِلَى حَضْرَمَوْتَ لَا يَخَافُ إِلَّا اللَّهَ أَوْ الذِّئْبَ عَلَى غَنَمِهِ وَلَكِنَّكُمْ تَسْتَعْجِلُونَ

Dari Khabab bin Al-Arat ia berkata: ”Kami mengeluh di hadapan  Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam saat beliau sedang bersandar di Ka’bah. Kami berkata kepadanya: ”Apakah engkau tidak memohonkan pertolongan bagi kami? Tidakkah engkau berdoa kepada Allah untuk kami?” Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam kemudian bersabda: ”Dahulu seorang lelaki ditanam badannya ke dalam bumi lalu gergaji diletakkan di atas kepalanya dan kepalanya dibelah menjadi dua namun hal itu tidak menghalanginya dari agamanya. Dan disisir dengan sisir besi sehingga terkelupaslah daging dan kulitnya sehingga tampaklah tulangnya namun hal itu tidak menghalanginya dari agamanya. Demi Allah, urusan ini akan disempurnakanNya sehingga seorang penunggang kuda akan berkelana dari San’aa ke Hadramaut tidak takut apapun selain Allah atau srigala menerkam dombanya, akan tetapi kalian tergesa-gesa!” (HR Bukhary 3343)

keluhan Khabab telah dibalas dengan jawaban tegas Nabi shollallahu ’alaih wa sallam. Nabi shollallahu ’alaih wa sallam mengingatkan Khabab akan tabiat jalan da’wah yang telah ditempuh orang-orang beriman sepanjang masa. Ini bukanlah jalan melewati taman-taman bunga. Ini bukan jalan bagi mereka yang menyengaja merekayasa jalan da’wah agar menghasilkan berbagai kemudahan dan kesenangan duniawi. Ini bukan jalan bagi mereka yang ingin segera memperoleh kemenangan da’wah dengan meninggalkan seruan asli da’wah Islam yaitu proklamasi umum pembebasan manusia dari penghambaan kepada sesama manusia menjadi penghambaan manusia kepada Allah semata. Ini bukan jalan bagi mereka yang demi kekuasaan rela mengaburkan seruan La Ilaha ill-Allah menjadi seruan selain Islam.

Minggu, 08 Mei 2011

JANGAN TAKUT MATI





Tiap-tiap yang berjiwa akan
merasakan mati,kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai
cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada kamilah kamu akan kembali (Qs.
Al anbiya : 35)


Tema kematian akan selalu menarik untuk di bicarakan dan di tulis, perasaan takut mati sepertinya masih menghantui hati sebagian orang.
Ketakutan itu bukan tanpa alasan, bayangkan, semua kenikmatan dunia akan kita tinggalkan begitu saja. Setelah itu badan kita akan membusuk dan yang tersisa hanya tulang belulang yang kemudian juga hancur.

Dalam pemahaman mayoritas umat masyarakat, kematian merupakan suatu yang mengerikandan bercorak horror. Karena itu mereka menyikapi kematian dengan sikap penolakan. Mereka menjadi takut mati, kematian tampaknya
merupakan peristiwa yang sangat tidak di inginkan oleh banyak orang

Paradigma dan sikap seperti ini timbul karena buku-buku dan informasi yang disampaikan oleh para juru dakwah cenderung menonjolkan aspek hukuman disbanding aspek ganjaran. Lebih mengedepankan azab dan siksa dari tuhan daripada tuhan yang maha pengasih dan maha pengampun.

Dalam Alquran di jelaska bahwa ada hamba-hamba alloh yang tidak takut mati, melainkan rindu, ruh ruh mereka merindukan kehidupan abadi dan kesenangan hakiki. Diantaranya adalah nabi Yusuf yang dalam Al Quran surat yusuf ayat 101
“ hai tuhan yang menciptakan langit dan bumi, engakulah penjagaku di dunia dan di
akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan muslim, dan hubungkanlaha kau dengan orang-orang yang saleh”

Mati sebenarnya adalah realisasi puncak kerinduan anak manusia untuk kemnbali ke asalnya. Selain itu seorang tokoh terhormat dari Turki, M. Fethullah gullen mengatakan
“ semua manusia mempunyai perasaan instrinsik akan keabadian, dan merasa terpenjara dalam tempat sempit dari dunia material dan merindukan keabadian. Kematian tak lebih dari pelepasan
tugas tugas duniawi yang berat, perubahan tempat tinggal, dan suatu perubahan jasad. Kematian adalah undangan ke awal dari kehidupan abadi”

Sekali lagi jangan takut mati,
Al-Quran menjelaskan bahwa kematian merupakan suatu yang pasti terjadi pada setiap mahkluk yang
bernyawa. Manusia tidak lain akan mengelak jika matian telah tiba. Kamatian merupakan gerbang menuju kehidupan yang abadi. Namun demikian Al quran juga menegaskan, bahwa kematian bukanlah peristiwa horror yang patut ditakuti, apalagi dihindari. Karena kematian merupakah hal yang indah dan seharusnya di rindukanoleh setiap muslim. Bukankah pertemuan dengan sang pencipta yang penuh kasih sayang dan pemaaf merupakan hal yang indah dan merupakan dambaan setiap jiwa?. Bukankah kita kadang selalu rindu untuk pulang ke kampung halaman?.

Tidak takut mati bukan berarti memohon kepada tuhan agar segera dicabut nyawa kita. Tidak takut mati adalah tuntunan agama, karena manusia tidak boleh menentang hokum tuhan. Kematian adalah sunatulloh. Jika rasa takut manusia akan kematian dikarenakan dosa dan kesalahan, maka sebaiknya segera memperbaiki diri, kembali kejalan tuhan dan menjalankan hidup sesuai dengan aturan tuhanNya.

Banyak diantara kita yang merasa takut dan khawatir dengan yang namanya kematian, ketakutan manusia terhadap kematian umumnya terjadi karena dua hal yaitu karena kurang atau tidak adanya pengetahuan kematian dan dosa atau kesalahan yang sudah bertumpuk.

Bila setiap manusia merindukan kematian sendiri seperti diuraikan di atas, maka mereka tidak menyianyiakan hidup. Manusia itu akanmenjalani hidup dengan penuh makna, bekerja dengan prodduktif, namun tanpa kecintaan dunia yang berlebihan. Hal ihn berarti akan mendukung terciptanya kebaikan di masyarakat.
umatku yang cerdas adalah yang banyak ingat akan mati lalu mempersiapkan hidup setelah
mati”

Kematian bukanlah kemusnahan. Kematian merupakan pertemuan dengan tuhan yang maha pengampun. Melalui pinti kematian, tuhan ingin memberi nikmat yang lebih besar.

Begitulah suratan takdir manusia dari tanah kembali ke tanah, semuanya akan berlangsung begitu singkat, tak ada ke abadian di dunia ini, tetapi selalu saja manusia yang serakah menginginkan keabadian.
Wallohu A’lam.

Jumat, 06 Mei 2011

Potret Seorang Muslim Ketika Kepepet


06 Mei 2011 | Dibaca : 934 kali | 0 Komentar | Kategori:

Disebutkan dalam sebuah kisah yang sahih bahwa Urwah bin Zubair bin Awwam, salah seorang ulama tabi'in senior, cucu dari Abu Bakr As-Siddiq, pernah melakukan perjalanan untuk menemui Khalifah Bani Umayah, Abdul Malik bin Marwan. Pada waktu itu, kaki Urwah sedang sakit, dan ada binatang kecil yang menggelayuti bagian luka di kakinya.
Ketika Urwah sampai di kediaman Abdul Malik bin Marwan, sang Khalilfah mendiskusikan masalah kaki Urwah yang sakit. Singkat cerita, Tabib kerajaan pun memeriksa penyakit yang dialami Urwah. Beliau mengusulkan, “Tidak ada jalan keluar selain kami harus memotong kaki Anda.” Urwah bertanya, “Bagaimana caranya?”
Sang Tabib menyarankan, “Anda minum khamar sampai mabuk. Setelah itu, kami potong (kaki Anda, ed.), sehingga Anda tidak mengalami rasa sakit.” Spontan, ulama bersahaja ini menjawab, “Aku tidak mau! Aku tidak ingin menghindari ujian Allah ini dengan bermaksiat kepada-Nya. Izinkan aku untuk shalat. Jika aku sedang berkonsentrasi dalam shalat, potonglah kakiku.” Setelah beliau benar-benar khusyuk dalam shalatnya, sang Tabib memotong kakinya.
Berselang seminggu setelah kakinya dipotong, anaknya jatuh dari atap dan meninggal. Beliau memiliki tujuh anak. Ketika informasi tentang anaknya ini sampai di telinga Urwah, beliau mengatakan, “Ya Allah, hanya milik-Mu segala puji. Engkau mengambil salah satu di antara anakku dan Engkau sisakan enam. Engkau mengambil salah satu di antara anggota badanku dan Engkau sisakan tiga yang lainnya ....” (Jannatur Ridha, karya Abu Ishaq Al-Huwaini, hlm. 3)
Bisa kita bayangkan seandainya posisi kita sebagaimana Urwah, ketika anestesi belum ditemukan seperti sekarang. Hanya ada dua pilihan: menahan rasa sakit amputasi manual yang luar biasa atau menerjang maksiat kepada Allah dengan minum khamar. Pada posisi ini, manusia mendapatkan ujian mental. Di sini, keberanian manusia diuji. Mereka bisa jadi melawan sesuatu yang bertolak belakang dengan keinginan jiwanya.
Kita yakin bahwa keadaan semacam ini nyaris tidak pernah luput dari perjalanan hidup manusia. Mulailah manusia terbelah menjadi dua golongan: kelompok pemenang yang tegar di atas kebenaran, meskipun nyaris merenggut nyawa dan golongan para pecundang, yang mudah menyerah dengan keadaan.
Seseorang, yang begitu tegar dalam menghadapi setiap masalah, tidak mengalami stres hanya gara-gara menghadapi ujian berupa kesempitan hidup. Hatinya tetap tegar dan wajahnya tetap menunjukkan sikap ridha terhadap semua takdir Allah.
Motivasinya jauh menembus batas dunia. Karena itu, sehebat apa pun ujian yang dialaminya, dia tidak gentar, tidak memelas kepada orang lain, dan tidak mudah menerima tawaran yang bertolak belakang dengan aturan syariat.
Sebaliknya, seorang pecundang akan lebih memilih solusi yang paling enak dan paling sesuai dengan seleranya. Halal-haram itu masalah belakangan, yang penting kenyang. Betapa banyak pengusaha yang rela untuk bergabung di kubangan riba, dengan alasan "kepepet cari modal". Betapa banyak kaum muslimin yang bergabung di perusahaan yang "melanggar syariat". Alasannya, yang penting dapat pekerjaan. Merekalah gambaran orang yang kalah sebelum berperang.
Barangkali ilustrasi di atas, terlalu berat untuk kita praktikkan. Namun, satu hal yang perlu kita yakini, bahwa diri kita bisa dilatih. Hanya saja, kita perlu keberanian tinggi untuk memulai. Mencoba mengambil keputusan yang tidak melanggar syariat, meskipun sangat menyakitkan diri kita.
Ini mungkin sangat sulit, namun tidak akan sesulit yang dibayangkan, bagi mereka yang mendapatkan rahmat dari Allah. Karena itu, bantulah jiwamu untuk mendidik diri sendiri dengan banyak berdoa kepada Dzat Yang Mahakuasa.
di kutip dari Ustad

Ammi Nur Baits, S.T.


Allahu a'lam.

MANFAAT WAKTU [ KH ABDULLAH GYMNASTIAR / A'A GYM ]


oleh MAJELIS TAUSIAH PARA KYAI & USTADZ INDONESIA pada 05 Mei 2011 jam 19:10
Sesungguhnya setiap manusia merugi kecuali orang-orang yang memanfatkan waktunya untuk hal-hal yang bermanfaat. Orang merugi bisa dilihat dari bagaimana perilakunya ketika ia naik kedudukan duniawinya. Di dalam ajaran Islam, yang penting itu percepatan, bukan kecepatan. Bedanya, kecepatan itu konstan, percepatan itu perubahan kecepatan per satuan waktu. Seperti balap mobil. Satu mobil tetap dalam kecepatan sekian, sedangkan yang lainnya bertahap kecepatan hingga meninggi. Mobil kedua ini tentunya yang akan menang.
Kita banyak sekali melakukan kelalaian yang haru kita taubati. Taubatnya kita dibuktikan dengan mengisi sisa waktu kita dengan yang bermanfaat sebaik-baiknya, dan mengajak orang lain untuk menjalankan kebaikan ini.

Waktu itu amat menghakimi diri kita. Bila waktu kita isi sia-sia, maka kita akan menjadi orang sia-sia. Apabila kita isi dengan perbuatan buruk, maka kita harus siap menanggung perbuatan buruk kita, kecuali dihapus dengan bertaubat.

Waktu itu sama bagi siapa pun, di mana pun, sehari semalam sebanyak 24 jam. Akan tapi mengapa dalam sehari orang ada yang bisa mengurus perusahaan besar, misalnya, tapi ada juga orang yang tidak bisa mengurus dirinya pun. Tidak boleh menyalahkan waktu, pasti kita tidak serius mengaturnya. Pasti tidak serius menggunakan waktu seefektif dan seefisiennya, sehingga Rasulullah Saw pun mengingatkan bahwa ada dua nikmat yang kebanyakan manusia terlena, yakni nikmat kesehatan dan waktu luang.

Sesungguhnya Allah SWT sudah menyiapkan waktu kepada kita umat manusia sama jumlahnya. Bagaimana rahasianya manusia bisa menjalankan percepatan? Segala sesuatu jalannya sering ditentukan pada target yang hendak dicapai. Misalnya, orang yang tidak memiliki target hapalan juz’amma, maka tidak akan tercapai-capai sampai kapan pun hapal juz 30-nya. Kalau tidak bisa menargetkan yang demikian tinggi, kita harus bisa mengukur kemampuan diri atau memakai sistem pentahapan. Misal lain, target terpenting dalam hidup ini menjadi orang yang bertakwa (ahli takwa). Jangan sampai mati kecuali dalam keadaan beriman. Dengan target seperti itu ia akan memanfaatkan waktu seoptimalnya. Perintah dan larangan Allah Swt demikian dijaga. Dan dilakukan pentargetan tahapan, seperti ibadah harian yang ditentukan percepatannya, sehingga makin bertambah amal-amalnya.

Orang-orang yang menjadikan kematian sebagai salah satu target, maka ia akan meningkat percepatannya. Percepatan yang sangat penting adalah apakah dalam waktu yang sama menambah hebatnya amal, walaupun tidak dipungkiri tiap kita berbeda-beda kemampuannya.



Perlu kita mencontoh bagaimana manfaat sinar matahari. Supaya rumah ini terang, kita harus mempunyai keinginan membuka jendela dan garden-garden. Allah sangat luas memberikan hidayah dan karunianya, hanya kitanya sendiri yang tidak membuka diri. Tidak ada ketenangan kecuali dengan hati yang bersih. Tidak ada amal yang diterima kecuali dengan hati yang bersih. Makanan ada tapi mangkok kotor, apakah yang dipikirkan, makanan atau mangkok? Yang paling penting dari percepatan itu apa pun adalah kebersihan hati.
Kebersihan bisa dikeruk dan jangan sampai ditahan. Kalau sudah makin bersih akan banyak yang ditampakkan dari rahasia kehidupan ini, seperti lalu lintas rejeki, kesalahan-kesalahan diri, dan sebagainya. Tidak ada yang menghalangi pertolongan Allah, kecuali oleh dosa-dosa kita. Di antara ibadah yang efektif pula dapat membersihkan hati adalah dengan sholat.

Ibarat dengan orang yang memiliki penyakit menular, maka kita pun akan takut tertular. Seperti itulah kalau kita bergaul dengan orang yang bisa menularkan sikap buruk. Dan tiada satu pun perbuatan yang menimpa kecuali dari perbuatan kita sendiri.

Selasa, 03 Mei 2011

PANDANGAN BAIK DAN BURUK [ KAJIAN TAFSIR ]


oleh MAJELIS TAUSIAH PARA KYAI & USTADZ INDONESIA pada 03 Mei 2011 jam 13:36
Allåh berfirman:


أَفَمَنْ كَانَ عَلَىٰ بَيِّنَةٍ مِنْ رَبِّهِ كَمَنْ زُيِّنَ لَهُ سُوءُ عَمَلِهِ وَاتَّبَعُوا أَهْوَاءَهُمْ

Maka apakah orang yang berpegang dengan HUJJAH yang datang dari Rabbnya sama dengan orang yang (shaitan) menjadikan dia memandang baik perbuatannya yang buruk itu dan mengikuti hawa nafsunya?
(QS 47:14)

Ibnu Katsiir menafsirkan ayat diatas:
Orang-orang yang berada diatas bashiirah (hujjah) dan keyakinan dari syari’at dan agama Allåh subhanahu wa ta’ala berdasarkan petunjuk dan ILMU yang Dia turunkan dalam kitabNya [dan sunnah RåsulNya -abuzuhriy-] serta berdasarkan fithrah yang lurus yang Allah hujamkan dalam tabiat mereka. TIDAKLAH SAMA dengan orang-orang yang MEMANDANG BAIK PERBUATAN BURUK dan MENGIKUTI HAWA NAFSUnya.
Kemudian Ibnu Katsiir membawakan ayat yang senada dengan ayat diatas:

أَفَمَنْ يَعْلَمُ أَنَّمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ الْحَقُّ كَمَنْ هُوَ أَعْمَىٰ ۚ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ

Adakah orang yang MENGETAHUI (MENGILMUI) bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Råbbmu itu benar sama dengan orang yang buta? Hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran
(QS. 13:19)

Ibnu Katsir menafsirkan ayat diatas:
Tidaklah sama antara
“Orang yang MENGETAHUI (MENGILMUI) bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu”, wahai Muhammad. “(apa yang diturunkan) dari Råbbmu” itu merupakan kebenaran yang tidak diragukan dan tidak diperselisihkan lagi, justru semuanya merupakan kebenaran, sebagiannya membenarkan sebagian yang lain, dan aneka perintah serta larangan adalah ADIL.”
dengan“orang yang buta, yang tidak mendapatkan petunjuk untuk menuju kebenaran, dan juga yang tidak memahami kebenaran itu. Jika dia memahaminya, maka dia tidak mengikutinya, tidak membenarkannya dan tidak menaatinya.

Firman Allåh:
“Hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran”
Maksudnya, yang dapat mengambil nasehat dan memahaminya hanyalah pemilik akal yang SEHAT dan WARAS.
Semoga Allåh menjadikan kita dari kalangan mereka.

(Shahiih Tafsiir Ibnu Katsiir [VIII/357] dan Ringkasan Tafsir Ibnu Katsiir [II/916])

Allåh berfirman:

‎قَالَ رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الْأَرْضِ وَلَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ . إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ

“(Iblis berkata:) Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka MEMANDANG BAIK (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka.”
(QS. 15: 39-40)

Ibnu Katsiir menafsirkan:

Maksud firman Allåh (39-40) tersebut adalah “Aku (Iblis) akan selalu menggoda dan mendorong mereka hingga berhasil membuat hati mereka menyukai kemaksiatan serta membuat hati mereka gelisah dan ingin selalu berbuat maksiat.”

(Shahiih Tafsiir Ibnu Katsiir [V/107])

‎إِنَّ عِبَادِي لَيْسَ لَكَ عَلَيْهِمْ سُلْطَانٌ . إِلَّا مَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْغَاوِينَ

Sesungguhnya hamba-hamba-Ku tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka. kecuali orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang sesat.
(QS. 15: 42)

Ibnu Katsiir menafsirkan:
Maksudnya, mereka telah diputuskan mendapatkan hidayah, tidak akan dapat kamu goda atau kamu sesatkan (kecuali orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang sesat). إِلَّا (kecuali) disini adalah pengecualian istitsna’ munqåthi’ (pengecualian terpisah).[Maksudnya, hamba-hamba Allåh yang mukhlish dengan orang-orang sesat SAMA SEKALI TERPISAH. Tidak boleh diartikan sebagian dari hamba-hamba yang mukhlish ini ada yang sesat]
(Shahiih Tafsiir Ibnu Katsiir [V/108])

Allåh berfirman:

‎إِنَّهُ لَيْسَ لَهُ سُلْطَانٌ عَلَى الَّذِينَ آمَنُوا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ . إِنَّمَا سُلْطَانُهُ عَلَى الَّذِينَ يَتَوَلَّوْنَهُ وَالَّذِينَ هُمْ بِهِ مُشْرِكُونَ

Sesungguhnya syaitan itu tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Tuhannya. Sesungguhnya kekuasaannya (syaitan) hanyalah atas orang-orang yang mengambilnya jadi pemimpin dan atas orang-orang yang mempersekutukannya dengan Allah.
(16: 99-100)

Ibnu Katsiir menafsirkan:
(Ada dua pendapat tentang tafsir ayat 99).

Sufyan ats-Tsauriy berkata,
“Syaithån itu tidak memiliki kekuasaan untuk menjatuhkan mereka ke dalam dosa yang mereka tidak bertaubat darinya” (ath-Thåbariy [XVII/294])

Adapun pendapat lain:
“Tidak ada hujjah bagi syaithån atas orang-orang beriman”
(adapun tafsiran untuk ayat 100)

Mujahid berkata:
“Maksudnya, kekuasaan (syaithån) itu hanya berlaku kepada orang-orang yang tunduk kepadanya (yakni tunduk kepada syaithån).”

Pendapat yang lain mengetakan:
“Kekuasaan (syaithån) itu hanya berlaku kepada orang-orang yang menjadikannya sebagai kekasih selain Allåh.”
dan kekuasaan itu juga berlaku:

“Atas orang-orang yang mempersekutukannya dengan Allah.”
(Shahiih Tafsir Ibnu Katsiir [V/255])

Allåh berfirman:

وَلَقَدْ صَدَّقَ عَلَيْهِمْ إِبْلِيسُ ظَنَّهُ فَاتَّبَعُوهُ إِلَّا فَرِيقًا مِنَ الْمُؤْمِنِينَ
. وَمَا كَانَ لَهُ عَلَيْهِمْ مِنْ سُلْطَانٍ إِلَّا لِنَعْلَمَ مَنْ يُؤْمِنُ بِالْآخِرَةِ مِمَّنْ هُوَ مِنْهَا فِي شَكٍّ وَرَبُّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ حَفِيظٌ

Dan sesungguhnya iblis telah dapat membuktikan kebenaran sangkaannya terhadap mereka lalu mereka mengikutinya, kecuali sebahagian orang-orang yang beriman. Dan tidak adalah kekuasaan iblis terhadap mereka, melainkan hanyalah agar Kami dapat membedakan siapa yang beriman kepada adanya kehidupan akhirat dari siapa yang ragu-ragu tentang itu. Dan Råbbmu Maha Memelihara segala sesuatu.
(34: 20-21)

Ibnu Katsiir menafsirkan:
“Pada (dua) ayat ini, Allåh mengabarkan tentang perilaku orang-orang yang mengikuti Iblis dan Hawa Nafsu, serta orang-orang yang selalu menentang petunjuk dan hidayah Ilahi.

Allåh berfirman:

وَلَقَدْ صَدَّقَ عَلَيْهِمْ إِبْلِيسُ ظَنَّهُ

“Dan sesungguhnya iblis telah dapat membuktikan kebenaran sangkaannya terhadap mereka”
Ibnu Abbas dan para ahli tafsir lainnya berkata:

“Ayat ini memiliki makna sepadan dengan firman Allåh yang mengabarkan tentang perilaku iblis yang enggan bersujud kepada Adam ‘alayhis salaam.”

Selanjutnya Allåh berfirman, mengisahkan perkataan Iblis,

قَالَ أَرَأَيْتَكَ هَٰذَا الَّذِي كَرَّمْتَ عَلَيَّ لَئِنْ أَخَّرْتَنِ إِلَىٰ يَوْمِ الْقِيَامَةِ لَأَحْتَنِكَنَّ ذُرِّيَّتَهُ إِلَّا قَلِيلًا

“Terangkanlah kepadaku inikah orangnya yang Engkau muliakan atas diriku? Sesungguhnya jika Engkau memberi tangguh kepadaku sampai hari kiamat, niscaya benar-benar akan aku sesatkan keturunannya, kecuali sebahagian kecil”.

(QS. 17: 62)
Dan Allåh berfirman -mengisahkan perkataan Iblis-:

ثُمَّ لَآتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ ۖ وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ

kemudian aku akan benar-benar mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).
(QS. 7: 62)

Dan ayat-ayat lain yang menjelaskan sumpah serapah iblis untuk menyesatkan manusia.
Firman Allåh:

وَمَا كَانَ لَهُ عَلَيْهِمْ مِنْ سُلْطَانٍ

Dan sesungguhnya iblis telah dapat membuktikan kebenaran sangkaannya terhadap mereka (yakni manusia)
Ibnu Abbas berkata:

“Maksud dari lafazh سُلْطَانٍ pada ayat ini adalah hujjah.”

Firman Allåh:

إِلَّا لِنَعْلَمَ مَنْ يُؤْمِنُ بِالْآخِرَةِ مِمَّنْ هُوَ مِنْهَا فِي شَكٍّ

melainkan hanyalah agar Kami dapat membedakan siapa yang beriman kepada adanya kehidupan akhirat dari siapa yang ragu-ragu tentang itu

Ibnu Katsiir menafsirkan:
Maksudnya, kami biarkan iblis menggoda mereka supaya menjadi jelas siapa saja yang beriman terhadap hari akhirat dan terjadinya hari kiamat serta akan adanya hari perhitungan dan pembalasan padanya, sehingga dengan keyakinan tersebut MEREKA MEMBAGUSKAN PENGHABAAN MEREKA TERHADAP RÅBB MEREKA. juga supaya jelas, siapa yang merasa ragu akan datangnya hari akhirat itu.

Senin, 02 Mei 2011

Lafadz ALLAH di Langit Kashmir


Posted by infokito™ pada 26 Februari 2008
Seorang wartawan foto bernama Showkat Nanda, pada Rabu (23/1), berhasil merekam fenomena luar biasa berupa tulisan “Allah” di langit, di atas kota Barramulla, Kashmir Utara.
Menurut Nanda, ia sedang menatap langit ketika melihat awan-awan membentuk pola tulisan yang menurutnya sangat unik untuk dipotret, sampai ia menyadari pola awan itu membentu tulisan “Allah.”
Saya sangat terkejut. Saya sempat mengamatinya sebentar dan terus memotretnya dengan kamera saya, ” tukas Nanda.
Subhanallah … Alam kembali menunjukkan tanda-tanda kebesaran Allah SWT. [swaramuslim]
Allahu akbar....sungguh allah berkuasa untuk menunjukkan kebesarannya,